Selasa, 25 Juni 2013

Kejujuran Bernegara

< Selas REPUBLIKA.CO.ID,Oleh: Ahmad Syafii Maarif Semakin panjang jalan yang dilalui kemerdekaan bangsa yang sampai detik ini menjelang 68 tahun, semakin tersibak penyimpangan kelakuan kolektif kita, terutama seperti yang diperagakan oleh sebagian kaum elite Indonesia. Perasaan berdosa dan berdusta yang mengkhianati sumpah jabatan sudah dianggap ringan tanpa beban moral sama sekali. Lihatlah di layar kaca wajah-wajah para tersangka korupsi yang menebar senyum, tak semiang pun terlihat tanda penyesalan. Pertanda apa semua pertujukan hitam ini? Jawabannya tunggal: sebagian elite bangsa ini secara moral sedang pingsan. Nurani yang pada dasarnya jujur dan bersih sudah lama tidak difungsikan. Akal sehat pun telah tiarap berhadapan dengan kuatnya godaan materi, seks, dan kekuasaan. Dalil-dalil agama yang sering dikutip hanyalah topeng untuk menutupi keserakahan terhadap kesenangan duniawi yang tak pernah merasa puas. Perilaku semacam ini jauh lebih busuk dari kelakuan mereka yang terang-terangan tidak menyukai agama yang mungkin dalam batas-batas tertentu masih bermoral. Pada skala yang lebih makro dalam sistem kekuasaan nasional, Pancasila dan UUD sudah lama menjadi benda mati. Jika ada anak bangsa yang masih mencintai dan mewujudkannya dalam ranah praksisme, jumlahnya semakin menipis dari hari ke hari, di tengah-tengah perlombaan kasar dan ganas dalam memperebutkan rezeki legal dan ilegal dari APBN/APBD/BUMN/BUMD dan peluang-peluang lain yang dapat digasak. Kejujuran berbangsa dan bernegara sudah semakin pupus dan tumbang, sementara yang mendaftar untuk naik haji hampir tak tertampung lagi, saking panjangnya yang antre. Bagaimana kita bisa memahami fenomena yang serba berlawanan ini? Mungkin jawabannya tidak satu karena faktor-faktor penyebabnya saling berselingkuhan satu sama lain. Faktor yang paling dominan dalam bacaan saya adalah cara orang beragama lebih terpukau kepada sisi-sisi luar berupa ritual dan seremoni, tetapi kering dan sepi dari ruh agama yang mengharuskan pemeluknya belajar menjadi manusia baik, apa pun parameter yang digunakan untuk itu. Ini persis seperti kritik tajam Alquran terhadap perilaku elite Quraisy yang tak punya jangkar spiritual sebagai pedoman dalam menjalankan kehidupan kolektif mereka. Inilah makna ayat itu: "Mereka kenal benar akan sisi-sisi luar dari kehidupan duniawi, sedangkan terhadap akhirat (tujuan hidup yang hakiki) mereka sama sekali tidak hirau." (Surah al-Rum ayat 7). Untuk Indonesia, kita sisihkan sebentar kritik Alquran karena tidak semua orang memercayainya. Pakai sajalah Pancasila dan UUD yang semua warga negara harus tuntuk kepadanya. Di mana sekarang dalam realitas berbangsa dan bernegara sila kedua "Kemanusiaan yang adil dan beradab\" di lingkungan tatanan sosial yang rusak berantakan? Adapun sila kelima "Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia\" sudah puluhan tahun menggantung di awang-awang. Kita berpura-pura menyebut Pancasila sebagai dasar filosofi negara. Dalam pola pembangunan nasional, sila itu hanyalah disebut sebagai pemanis untuk menipu rakyat. Kemudian jejerkan pula pasal 33 UUD dengan strategi pembangunan negara. Siapa yang menguasai bumi, air, dan semua kekayaan yang terdapat di dalamnya? Jawabannya, bukan lagi negara sebagaimana yang diperintahkan konstitusi, tetapi pihak asing dan agen-agen domestiknya. Dengan kenyataan keras ini, kesimpulan final adalah: kejujuran bernegara sudah lama menghilang di tengah-tengah gencarnya kultur berebut benda dan kekuasaan! Oleh sebab itu, pilihan yang benar ke depan adalah: gerak sejarah nasional harus mengubah arah yang sesat dan menyesatkan ini, jika Indonesia memang mau diselamatkan agar menjadi bangsa dan negara yang berdaulat penuh dan punya harga diri.

Durian

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Ustadz Yusuf Mansur Saya masuk dan melewati negeri penghasil duren (durian). Dan bertanya kepada yang ikut satu mobil. "Kalo saya pengen makan duren malam ini, bisa?". Kawan-kawan tertawa kecil. Kata mereka, ini bukan musimnya. Ga ada." Sejurus saya koq ingat soalan tauhid. Siapa yang menumbuhkan duren? Allah. Dan Allahu itu, laa syariika lahu, ga perlu yang lain. Secara syareat, perlu ditanam, dari biji. Jadi pohon. Membesar, berbunga, lalu berbuah. Tapi bila Allah mau? Wamaa amrunaa illaa waahidatun kalamhin bil-bashor. Semua akan Allah hadirkan dalam hitungan kedipan mata saja. Begitu termuat di dalam akhir-akhir Surah al Qomar. Dan di ayat yang lain, ayat yang sangat kita hafal, innamaa amruhuu idzaa arooda syai-an, ay-yaquula lahuu kun fayakuun. Kalau Allah menghendaki saya dan kawan-kawan makan duren, malam itu, ya Kun Fayakuun dah. Lantas saya mengajak semua berdoa. Dengan yakin ya. Begitu kata saya. Jangan ampe ragu. Allah ga perlu musim. Allah juga ga perlu pohon untuk bisa membagi kita duren. Saya lantas kisahkan kisah makanan bagi Maryam, ibundanya Nabiyallaah 'Isa. Diturunkan dari langit. Dan kami pun berdoa. Sederhana. Minta dikirimkan duren. Alhamdulillaah tausiyah berjalan lancar. Dan alhamdulillaah pula, sampe besok pagi kami pamit pulang dan bertolak ke Jakarta, duren tetep ga ada. Doa tidak dikabulkan kah? Ga masalah. Bener-bener ga masalah. Toh bagi seorang mukmin, udah dikasih kesempatan, waktu, dan bisa berdoa saja, itu sudah karunia. Ga mesti juga harus dikabul. Kami tersenyum. Makasih ya Allah. Orang lain hanya diberi kesempatan ngomong pengen duren, dan kepengen duren, kami Engkau berikan kesempatan berdoa. Tentulah ini jadi kebaikan di masa yang akan datang. Sekitar tiga-empat tahun kemudian, kisah ini saya kisahkan di Tembilahan, Riau. Hadirin tersenyum. Dia pikir, kalau yang berdoa seorang ustadz, pastilah dikabul. Nyatanya, engga dikabul. Duren, tetap tidak terkirimkan. Sembari ditarik hikmah, bahwa minimal tauhidnya udah bener. Allah ga perlu musim. Allah ga perlu duren. Ga berlaku ketentuan dunia untuk Allah. Sementara, diyakinkan pula, bahwa doa itu, tetap baik, dan jadi kebaikan. Meski tidak atau belum dikabul. Besok paginya, rombongan bersiap pulang ke Jakarta. Panitia mempersilahkan kami sarapan. "Pak Ustadz, semalam ada yang mengirimkan duren. Katanya, untuk Pak Ustadz dan kawan-kawan sarapan. Pake duren," kata panitia, sambil tertawa. Allahu akbar, duren mentega, berwarna kuning yang tampak manis sekali, sudah terhidang untuk kami makan. Subhaanallaah. Maha Suci Allah. Akhirnya Allah kabulkan. Meski butuh perjalanan tiga-empat tahun. Kepada seluruh masyarakat Indonesia, bekerjalah, dan teruslah berdoa. Insyaa Allah Indonesia ke depan bakal lebih baik lagi. Kepada-Nya kita meminta, dan kepada-Nya kita harus bersabar dan berbaik sangka. Salam./div>