Rabu, 23 Januari 2013

Salah Satu Tanda Orang Munafik


/Agung Supri Selama ini kita telah mengetahui bahwa tanda-tanda kemunafikan yaitu khianat, curang, dusta, dan fajir, seperti tersebut dalam hadits Abdullah bin Amr. Keempat sifat ini tidaklah terdapat pada seseorang kecuali dia seorang munafik tulen. Nabi shallallahu 'alaihi wasallam juga mengabarkan sebuah tanda lain dari tanda-tanda orang munafik, yakni sangat berat dalam melaksanakan shalat Isya dan Shubuh. Di zaman ini, banyak di antara kaum muslimin yang masih merasa berat mengerjakan kedua shalat ini dengan alasan lelah atau ngantuk sepulang kerja maupun alasan lainnya, wallahul Musta’an. Karenanya, wajib atas setiap muslim untuk mengetahui kelima ciri munafik di atas beserta ciri-ciri lainnya agar dia bisa menjaga diri darinya. Barangsiapa yang tidak mengetahui suatu kejelekan, maka kemungkinan besar dia akan terjatuh ke dalamnya. Sahabat Anas bin Malik radhiyallahu anhu berkata, "Barangsiapa yang ingin bergembira menemui Allah besok dalam keadaan muslim, maka jagalah shalat-shalat itu tatkala dikumandangkan. Karena Allah telah mensyari’atkan sunanul huda (jalan-jalan petunjuk) bagi Nabi kalian Shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sesungguhnya dia (shalat-shalat wajib) itu merupakan sunanul huda (jalan-jalan petunujuk). Andaikan kalian shalat (fardhu) di rumah kalian sebagaimana orang (munafik) yang tinggal di rumahnya, maka kalian telah meninggalkan sunnah (petunjuk) Nabi kalian. Andaikan kalian meninggalkan petunjuk Nabi kalian, maka kalian akan sesat. Tak ada seorang pun yang bersuci, lalu ia memperbaiki bersucinya, kemudian ia ke masjid di antara masjid-masjid, melainkan Allah akan tuliskan kebaikan bagi setiap langkah yang ia ayunkan, Dia (Allah) akan mengangkat derajat orang itu dengannya, dan menghapus dosanya dengannya. Kami telah menyaksikan orang-orang di antara kami, tak ada yang tertinggal dari shalat jama’ah, kecuali orang munafik yang nyata kemunafikannya. Sungguh ada seorang laki-laki didatangkan sambil dipapah di antara dua orang sampai ia ditegakkan dalam shaf." [HR.Muslim dalam Kitab Al-Masajid wa Mawadhi’ Ash-Shalah(654), dan Ibnu Majah dalam Kitab Al-Masajid wa Al-Jama’at (777)] An-Nawawiy rahimahullah berkata, "Dalam perkara ini semua terdapat penekanan masalah shalat jama’ah, menanggung penderitaan dalam menghadirinya, dan bahwa jika seorang yang sakit dan semacamnya mungkin sampai kepada shalat jama’ah, maka dianjurkan untuk menghadirinya." [Lihat Syarh Shahih Muslim (5/159)] Jadi, Shalat jama’ah merupakan ciri khas seorang mukmin. Tak ada yang meninggalkannya, kecuali orang-orang munafik yang dikuasai oleh setan. Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, "Tidaklah tiga orang dalam suatu kampung dan pedalaman, yang tidak ditegakkan di antara mereka shalat, kecuali setan akan menguasai mereka. Lazimilah (shalat) jama’ah, karena serigala akan memangsa kambing yang jauh (sendirian)." [HR. Abu Dawud dalam As-Sunan (547), An-Nasa’i dalam As-Sunan (847). Di-hasan-kan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ (5577)]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar